Friday, July 21, 2017

Resensi Novel Filosofi Kopi oleh Dee Lestari

Original Title: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
ISBN: 6028811610 (ISBN13: 9786028811613)
Edition Language: Indonesian
Literary Awards: Kusala Sastra Khatulistiwa Nominee for Prosa - shortlist (2006), Karya Sastra Terbaik 2006 Pilihan Majalan Tempo (2006)
Paperback, 139 pages
Published 2012 by Bentang Pustaka (first published 2006)

Review:
Sesuai dengan judulnya, novel ini berisi tentang kumpulan cerita pendek dan prosa yang pernah ditulis oleh Dee. Hampir sama seperti karya Dee yang lain, Filosofi Kopi juga mengajak para pembacanya untuk masuk lebih dalam pada setiap cerita yang dituliskan, meskipun isinya 'hanyalah' kumpulan prosa dan cerpen yang istilahnya dapat dibaca dalam sekali duduk. Rangkaian kata yang tersusun apik mampu membuat otak saya berpikir ulang tentang segala hal. Tidak hanya romansa, cerita-cerita yang dipaparkan Dee juga berisi tentang persahabatan, kesedihan, dan juga harapan, bahkan tentang makhluk selain manusia yang bernama Rico de Coro. Imajinasi Dee sekali lagi membuat saya terkagum dan tentu saja, semakin menghormatinya.

Meskipun begitu, terlepas dari segala pujian untuk buku ini, masih saja ada suatu hal yang mengganjal hati. Kali ini, saya kurang setuju dengan pemilihan judul buku. Yang pertama kali ada dibayangan saya ketika mendengar kata "Filosofi Kopi" adalah, tentu saja, dunia per-kopi-an dan segala seluk beluk tentangnya. Nyatanya, dunia per-kopi-an itu hanya ditulis pada satu cerita berjudul sama. Namun terlepas dari judul, tulisan Dee pada buku ini memang layak untuk mendapat penghargaan Karya Sastra Terbaik 2006.

Thursday, March 19, 2015

Kembali



Mengapa kau kembali? Setelah semua sikapmu yang bahkan tak pernah berusaha untuk mempertahankan ‘kita’. Setelah aku harus menata lagi semua yang telah kau hancurkan begitu saja, dalam diam. Setelah kau hempaskan aku, tepat disaat aku berada dipuncak tertinggi dalam angan tentangmu. Setelah, akhirnya aku kini menemukan sosok lain yang dengan gigihnya mempertahankan ‘kami’, sekalipun keadaan itu sangat sulit.

Dia, sosok lain itu kini telah menempati ruangmu dihatiku. Dia, yang mempunyai sejuta kejutan dalam dirinya yang takkan pernah berhenti membuatku terpesona. Dia, yang secara tidak langsung selalu mengingatkanku tentangmu, tentang cerita kita yang bahkan harus berakhir sebelum adanya permulaan.

Dan kini, kau kembali. Tak mengertikah kau, seberapa kerasnya aku berusaha melupakanmu. Dan bahkan ketika aku sudah menemukan pelabuhan hati yang lain, kau masih saja dengan mudahnya mampu menggoyahkan kapalku, dengan semua ombakmu untuk menuntunku kembali ke pelabuhanmu.

Mungkin aku yang salah, tak pernah benar-benar memadamkan api diantara kita. Atau kita yang pantas dipersalahkan, karena memulai sebuah kisah tabu yang akhirnya selalu berhasil menjebakku bersama semua kenanganmu. Dan hatimu, masihkah ada sosokku didalam sana? Atau hanya aku yang membiarkan angan terliarku mengambil alih, seolah kau akan benar-benar menarikku kembali ke dalam nyamannya kita dulu.

Monday, December 08, 2014

Adalah Dia

Adalah dia, yang namanya selalu ku sebut dalam doa di sepertiga malamku.
Adalah dia, yang hitam matanya selalu membuatku percaya.
Adalah dia, yang kokoh lengannya selalu menopangku saat ku jatuh.
Adalah dia, yang jenjang kakinya selalu berusaha mengiri langkahku.
Adalah dia, yang hatinya sekeras baja, namun juga selembut kapas di saat bersamaan.
Adalah dia, yang pemikirannya selalu dapat membuat mataku terbuka akan banyak hal yang belum ku ketahui.
Adalah dia, yang berhasil memenangkan hatiku pada saat pertama kali kita bertemu.
Adalah dia, yang ku harap selalu ada dalam setiap mimpiku, dan setiap pagi ketika ku terbangun dari mimpiku.
Adalah dia seorang, yang semoga suatu saat nanti, dapat menjadi apa yang selama ini kami berdua cita-citakan.

Friday, January 11, 2013

December 10, 2012

Here's come the moment we finally express our each other feelings.
Knowing that you had the same feeling like me, make me became happiest girl in the universe.
How could I not? After 2 years full of hide-and-seek feeling, and know I knew the truth.
Days after our confession were really like a dream.
I'd never thought that having you to know my feeling would be that wonderful.
Even if we separated by such a distance.
You just never complain about anything.
And all we do just let the stream flow.
And all we know is just the moment that never fails to make us smile, and laugh.

But we also knew.
Our relationship will go nowhere.
Our feeling was wrong.
Our dream would never could be reached.
Forever, we will always just be a friend.
A very best friend, that being trapped in some area called friend-zone.

There's someone between us.
Someone that already had me.
And we knew it too well, that I can't let go of him.

I'm happy, just to see you very happy.
Just don't mind my feeling.
And if there's a life after death,
may we meet again with a better condition.
So we could be happy, without hurting anybody.
I love you, always.

And that was our last conversation.
And in that night, my heart broke into million pieces.
And know, we just a stranger with memories, a really nice, but hurtful memories.